Minggu, September 28, 2014

Museum Fatahillah Jakarta

Museum Fatahillah dikenal juga dengan nama Museum Sejarah Jakarta atau Museum Batavia adalah sebuah museum yang menyimpan benda-benda bersejarah dan berbagai informasi tentang sejarah Jakarta. Museum ini berada di Jalan Taman Fatahillah No. 1, Jakarta Barat, yang dibangun pada tahun 1707 di area seluas 13.588 meter persegi. Pada awalnya, gedung ini merupakan Staadhuis, atau Balai Kota yang kemudian dibangun oleh Gubernur Jendral Joan Van Hoorn. Bentuk bangunan cukup megah, dengan arsitektur kuno yang mengadopsi Istada Dan, Amsterdam. Bagunan ini terdiri atas bangunan utama, yang memiliki sayap pada sisi timur dan barat, dan bangunan sanding, yang dahulu dipakai sebagai ruang kantor, pengadilan, dan penjara bawah tanah. Pada masa pemerintahan orde baru, pada tanggal 30 Maret 1974, bangunan ini secara resmi digunakan sebagai Museum Fatahillah.

Gedung Museum Fatahillah

Arsitektur bangunan tiga lantai ini mengadopsi Istana Dam, Amsterdam yang bergaya abad ke 17. Atap berwarna merah bata, dan pada bagian atap utama memiliki petunjuk arah mata angin. Dinding berwarna kekuningan dengan daun pintu berwarna hijau tua dan terbuat dari jati. Tampak pekarangan museum dihiasi dengan beberapa phon tua, sehingga semakin memberikan kesan kuno. Sedangkan lantai pelataran pada pekarangan tersusun dari konblok, yang membuat bangunan tua ini semakin tampak megah.






Sejarah Gedung Museum Fatahillah

Gedung Museum Sejarah Jakarta mulai dibangun pada tahun 1620 oleh Gubernur Jendral Jan Pieterszoon Coen sebagai gedung balai kota hingga tahun 1627. Pada tahun 1629, pasukan Sultan Hanyokrokusumo membakar gedung tersebut sehingga mengalami rusak parah. Dan pada tahun 1648 kondisi gedung sangat buruk karena kondisi tanah yang tidak stabil. Kemudian pada tanggal 25 Januari 1707, Gubernur Jenderal Joan Van Hoorn membangun gedung baru di atas puing-puing Staadhuis yang lama. Peletakan batu pertama pembangunan gedung baru ini dilakukan oleh Petrolina Willemina Van Hoorn, putri Gubernur Jenderal Joan Van Hoorn. Perencana gedung Staadhuis baru adalah seorang Belanda, bernama WJ. Van Der Veld, dan pelaksanaan pembangunannya dipimpin oleh J. Kemmers. Pembangunan gedung yang dirancang cukup megah ini selesai dalam waktu tiga tahun, dan diresmikan pada tanggal 10 Juli 1710, pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Abraham Van Riebeeck.

Pemanfaatan gedung tersebut tidak hanya sebagai Balai Kota saja, tetapi juga digunakan sebagai kantor Dewan Urusan Perkawinan, Kantor Balai Harta (Jawatan Pegadaian) dan kantor Pengadilan (Raad Van Justitie). Oleh karena itu gedung Staadhuis juga dikenal sebagai Gedung Bicara. Gedung ini juga dilengkapi dengan ruang bawah tanah yang digunakan sebagai penjara. Hal yang menarik adalah, bahwa penjara bawah tanah gedung Staadhuis pernah digunakan untuk memenjarakan sejumlah pahlawan nasional, seperti Pangeran Diponegoro dan Cut Nyak Dien.

Museum Fatahillah Jakarta

Pada tahun 1925, oleh pemerintah Hindia Belanda, gedung tersebut digunakan sebagai Balaikota Provinsi Jawa Barat. Dan pada tahun 1942-1945 digunakan sebagai kantor pengumpulan logistik oleh Jepang. Pada masa kemerdekaan, tahun 1952, digunakan sebagai markas Komando Militer Kota (KMK) I, yang kemudian diubah menjadi KODIM 0503 Jakarta Barat. Baru pada tahun 1968, gedung tersebut diserahkan kepada pemerintah DKI Jakarta, dan pada tahun 1974 diresmikan sebagai Museum Sejarah Jakarta.






Sejarah Berdirinya Museum Fatahillah

Rencana pendirian museum sejarah Batavia disampaikan pada tahun 1937, atas prakarsa dari Yayasan Oud Batavia. Untuk merealisasikan rencana tersebut, Yayasan Oud Batavia membeli sebuah gudang yang berlokasi di sekitar Kali Besar (kini Jalan Pintu Besar Utara No. 27) milik Geo Wehry & Co, kemudian memugar dan membangun kembali untuk digunakan sebagai Museum Oud Batavia. Dan pada tahun 1939, museum tersebut dibuka untuk masyarakat umum.

Pada masa kemerdekaan, Museum Oud Batavia berubah nama menjadi Museum Djakarta Lama, dibawah naungan Lembaga Kebudayaan Indonesia. Pada tahun 1968, tanggung jawab terhadap Museum Djakarta Lama diserahkan kepada Pemda DKI Jakarta, dan pada tanggal 30 Maret 1974 secara resmi namanya diganti menjadi Museum Sejarah Jakarta.

Sejak tahun 1999 atau setelah bergulirnya era reformasi, pemerintah DKI Jakarta bertekad menjadikan Museum Sejarah Jakarta atau yang kini juga dikenal dengan Museum Fatahillah, menjadi tempat yang tidak sekedar menyimpan benda-benda warisan sejarah, tetapi juga menjadi sarana rekreasi yang menyajikan informasi lengkap tentang sejarah Jakarta semenjak jaman prasejarah. Untuk merangsang minat wisatawan berkunjung, Museum Fatahillah senantiasa berusaha menyelenggarakan kegiatan-kegiatan kreatif. Hal tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya warisan budaya.






Koleksi Museum Fatahilah

Wisatawan dapat menemukan berbagai koleksi benda-benda peninggalan sejarah dan berbagai informasi tentang perjalanan sejarah Jakarta di Museum Fatahillah. Selain itu, juga dapat dijumpai replika peninggalan sejarah pada masa Tarumanegara dan Pajajaran, penemuan arkeologi, keramik, gerabah, dan batu prasasti.

Tidak kalah menariknya, di Museum Fatahillah ini juga terdapat koleksi mebel-mebel antik dari abad 17-19. Membel-mebel tersebut memang sangat antik, perpaduan dari gaya Eropa, Republik Rakyat Tiongkok, dan Indonesia, merupakan nilai seni yang patut mendapatkan apresiasi.

Terdapat juga berbagai koleksi tentang kebudayaan Betawi, numismatik, dan becak. Bahkan wisatawan juga dapat menemukan patung Dewa Hermes (menurut mitologi Yunani, merupakan dewa keberuntungan dan perlindungan bagi kaum pedagang) yang dulunya berada di perempatan Harmoni. Masih ada lagi satu benda menarik yang dianggap memiliki kekuatan magis cukup besar, yaitu meriam Si Jagur.

Koleksi di Museum Fatahillah tersebut dapat ditemukan di berbagai ruang, seperti Ruang Prasejarah Jakarta, Ruang Tarumanegara, Ruang Jayakarta, Ruang Fatahillah, Ruang Sultan Agung, dan Ruang MH Thamrin.

Selain melihat berbagai koleksi benda-benda warisan budaya tersebut, wisatawan juga dapat mengunjungi penjara bawah tanah yang pernah digunakan untuk memenjarakan tokoh nasional kita, yaitu Pangeran Diponegoro dan Cut Nyak Dien pada masa kolonial Belanda.

Referensi :

http://museumsejarahjakarta.org/

http://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Fatahillah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar sesuai dengan materi artikel, menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dengan tidak menuliskan kata-kata singkatan tidak baku. Komentar yang hanya berisi satu atau dua kalimat saja akan dianggap sebagai komentar spam.

Paket Wisata Dieng

Paket Wisata Dieng

Menjelajah Negeri Di Atas Awan, penawaran spesial Paket Wisata Dieng. Calya Wisata : 0852-0009-6334
Penginapan Dieng

Penginapan Dieng

Reservasi Penginapan Dieng, lebih murah dan hemat, tetap berkualitas. Calya Wisata : 0852-0009-6334.
Sewa Motor Dieng

Sewa Motor Dieng

Jasa sewa motor murah di Dieng dengan berbagai pilihan menarik. Calya Wisata : 0852-0009-6334.
Sewa Tenda Dieng

Sewa Tenda Dieng

Jasa Penyewaan Tenda Camping di Dieng dan Gunung Prau 2.565. Calya Wisata : 0852-0009-6334.
Open Trip Gunung Prau

Open Trip Gunung Prau

Program spesial untuk Anda, Open Trip Pendakian Gunung Prau Dieng. Calya Wisata : 0852-0009-6334
Rental Mobil Dieng

Jasa Rental Mobil Dieng

JASA RENTAL MURAH MOBIL DIENG, melayani berbagai rute & tujuan. Calya Wisata : 0852-0009-6334.